Infrastruktur

Halo bro,, sis,, suwe ki ra ngisi blog. Wingi lagi ae bar muleh. dadi gatel pengen nulis tentang kualitas infrastrukture nang pati. Coro kon mbiji ngono tak biji 5 (skala 1-10) og, lha py jal?  wong rupane koyok ngono, soyo tahun soyo meh ra ono perubahan malah cenderung menurun.

Oke2 sekarang saya akan menggunakan BAHASA INDONESIA dan sedikit lebih serius.

Pasca 2 Periode Kepemimpinan Yth, Bpk H Tasiman, dalam kacamata saya kurang membawa perubahan berarti, malah cenderung stagnan atau berjalan di tempat. Selanjutnya selama mengikuti perkembangan kepemimpinan duet Bupati-wakil Bupati baru kita semenjak sore 7 Agustus 2012, Bpk Haryanto-Budiyono belum memberikan gebrakan atau inovasi seperti yg dilakukan duet DKI 1-2 (jokowi-ahok) yang saya harapkan sebelumnya. Perlu bro2 dan sis2 ketahui, istilah infrastruktur mencakup dua hal, sarana dan prasarana. Sarana bentuknya unit (mis: rumah sakit, terminal, masjid, dsb), sementara prasarana bentuknya jaringan (jalan, komunikasi, internet, saluran air, dsb).

Mari kita lihat beberapa kasus (bermasalah) infrastruktur di Pati

1. Proyek normalisasi Sungai Juwana disinyalir bermasalah. Selain dinilai terlalu mahal, proyek itu juga tidak memiliki konsep jelas yang bisa diterapkan saat pengerjaan ataupun setelahnya.

Dari pemantauan dan penyusuran alur sungai, Yayasan Society for Health, Education, Environment, and Peace (SHEEP) Indonesia (YSI) mengindikasikan adanya ketakberesan pelaksanaan proyek. Mengingat, untuk menormalisasi satu kilometer alur dibutuhkan dana sekitar Rp 2,3 miliar.

Gambar

Angka ini didapat atas asumsi perbandingan antara total biaya yang sudah digunakan untuk normalisasi baik yang dikelola Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana maupun Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pati, yaitu sebesar Rp 60.896.743.000 (2010-2012) dibagi panjang normalisasi 25,42 kilometer.

“Dari pengamatan kami di lapangan, panjang sungai yang dinormalisasi sejak 2010 hingga 2012 adalah 25,42 kilometer. Kami menghitung kumulatif karena normalisasi dialokasikan dari tiga tahun anggaran (2010, 2011, 2012),” ujarnya, kemarin.

Dalam pemantauan, YSI menggunakan perahu nelayan menyusuri Sungai Juwana dengan menggunakan global positioning system (GPS). Alat ini untuk mengukur panjang sungai yang dinormalisasi dan menentukan titik koordinat lokasi-lokasi normalisasi yang bermasalah.
Proyek ini juga dinilai asal-asalan karena ada alur yang bertanggul dan tidak. Bahkan, pelaksanaan normalisasi pun mengabaikan kepentingan masyarakat yang tergusur.

Kehilangan Rumah

Saat ini ada tidak kurang 25 keluarga dari Desa Bumirejo, Doropayung dan sejumlah desa lain di Kecamatan Juwana yang kehilangan rumah dan harus mengungsi. Sebagian dari mereka membuat tenda di punden desa dan menginap di bangunan sekolah.

“Di samping itu, sampai proyek normalisasi berakhir pada 2012, masih banyak sisa tanah hasil normalisasi yang menutup aliran anak sungai dan lahan pertanian milik masyarakat. Ini tidak pernah diperhatikan dan dibiarkan begitu saja,” paparnya.

Selain itu, pihak terkait juga dinilai enggan menyosialisasikan aturan tentang peruntukan tanggul. Dengan demikian setelah dinormalisasi, hampir 65% tangul ditanami masyarakat sekitar, seperti pohon pisang, kacang panjang, jagung, rumput gajah yang berkemungkinan merusak tanggul,” paparnya.

Gambar

Terkait temuan itu, YSI melaporkan ke Unit Kerja Presiden tentang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4). Harapannya, instansi di bawah presiden itu turun ke lapangan untuk memeriksa.
“Kami berharap jika memang indikasi penyimpangannya kuat, bisa diproses sebagaimana mestinya. Karena dana APBN yang digelontor tidak sedikit atau secara kumulatif lebih dari Rp 60 miliar,” tandasnya. (sumber: suaramerdeka.com)

(to be continued..)

Ada Berapa Kecamatan di Pati?

Hei, yang ngaku orang Pati!!.  Pada apal gak nih, berapa kecamatan di Kabupatenmu?. Yakin dah, gak ada yang hapal. Gue aja nulis ini kopas semua (sumber utama dari wikipedia, http://id.wikipedia.org/). Baiklah, kini saatnya anda haurs lebih tahu daripada sebelumnya. Jangan kalah ama Pramudya Ananta Toer yang udah nulis buku “Jalan Raya Pos, Jalan Daendels”. Dia aja nulis sejarah Pati ama Juwana, masak kita yang asli sono aja gak tahu jumlah kecamatannya.. apalagi namanya.. OK, let’s read and remember Every Subdistrict Of Pati Regency. DEEP in PATI INSIDE…

Great Map of Pati Regency (only on patibumiminatani.wordpress.com)

Batangan (1)

Batangan berada tepat di ujung timur Kabupaten Pati.  Ia termasuk kecamatan yang terletak di pesisir Laut Jawa, berada di Jalur Pantura, sekaligus berbatasan langsung dengan Kabupaten Rembang (terpisah Sungai Randugunting). Dahulunya kecamatan ini menjadi bagian dari Kawedanan Juwana. Dari ibu kota Kabupaten Pati  memiliki Jarak kurang-lebih 22 km ke arah timur. Luas kecamatan ini adalah 5.066 ha sekaligus sebagai kecamatan terkecil kelima di Kabupaten Pati setelah Kecamatan Pati, Wedarijaksa, Trangkil dan Tayu. Kecamatan ini mempunyai ketinggian berkisar antara 1-4 meter dpl dan terdiri atas tanah berjenis aluvial. Batas-batas wilayah Kecamatan Batangan yaitu:    Utara berbatasan dengan Laut Jawa.    Timur berbatasan dengan Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang.    Selatan berbatasan dengan Kecamatan Jaken.      Barat berbatasan dengan Kecamatan Juwana.

Rumah antik di Batangan (jowoantique.blogspot.com)

Secara administratif, kecamatan Batangan terbagi ke dalam 18 desa yang terbagi lagi ke dalam 52 Rukun Warga (RW) dan 266 Rukun Tetangga (RT). Jumlah penduduk kecamatan Batangan sebanyak 40.799 jiwa (tahun 2006) dengan komposisi 20.294 jiwa penduduk laki-laki dan 20.505 jiwa penduduk perempuan. Sebagian besar penduduk bermata pencarian sebagai petani, petani tambak dan nelayan. Komoditas utama tanaman padi, tambak Udang Windu dan bandeng serta garam. Kecamatan Batangan hanya memiliki 1 buah pasar tradisional yang terletak di bagian selatan wilayah kecamatan tepatnya di desa Kuniran. Pasar tradisional ini beroperasi tiga kali seminggu yaitu pada hari Minggu, Selasa dan Jumat. Hari operasi pasar ini bergantian dengan pasar Ngulakan yang terdapat di Sumberejo kecamatan Jaken yang hanya berjarak 3 km dari pasar tersebut. Kecamatan Batangan meruapakan satu di antara 4 kecamatan di Kabuapten Pati yang memiliki Tempat Pelelangan Ikan (TPI). TPI tersebut terletak di desa Pecangaan.

Cluwak (2)

   Persawahan di Cluwak (panoramio.com)

Terletak kurang lebih 39 km ke arah utara dari pusat kota Pati. Berada di lereng Gunung Muria dengan tanah berjenis “latosol” kecamatan ini berada di ketinggian antara 15-282 m dpl. Secara administratif, kecamatan Cluwak terdiri atas 13 desa, 74, Rukun Warga (RW) dan 287 Rukun Tetangga (RT). Berdasarkan data tahun 2006, kecamatan Cluwak berpenduduk sebanyak 44.079 jiwa yang terdiri atas 22.014 jiwa berkelamin laki-laki dan 22.065 berkelamin perempuan. Cluwak memiliki beberapa lembaga pendidikan mulai tingkat TK hingga SMA. Dalam bidang kesehatan, mayarakat kecamatan Cluwak dilayani oleh sebuah Puskesmas dan 2 buah Puskesmas Pembantu.    Di bidang perekonomian, kecamatan Cluwak memiliki 3 buah pasar tradisional. Pasar tersebut terdapat di desa Ngablak

Dukuhseti (3)

Terletak kurang lebih 36 km ke arah utara dari pusat kota Pati. Merupakan daerah dataran rendah dan berada di pesisir laut Jawa dengan ketinggian tanah antara 1-40 meter dpl. Batas-batas kecamatan Dukuhseti antara lain:    Sebelah utara berbatasan dengan laut Jawa    Sebelah timur berbatasan dengan laut Jawa    Sebelah selatan berbatasan dengan kecamatan Tayu    Sebelah barat berbatasan dengan kecamatan Cluwak dan kecamatan Keling Kabupaten Jepara.

Sungai di Dukuhseti (designography.blogspot.com)

Secara administratif, kecamatan Cluwak terdiri atas 12 desa, dengan 46, Rukun Warga (RW) dan 342 Rukun Tetangga (RT). Berdasarkan data tahun 2006, kecamatan Dukuhseti berpenduduk sebanyak 57.723 jiwa yang terdiri atas 29.184 jiwa berkelamin laki-laki dan 28.539 berkelamin perempuan. Kecamatan Dukuhseti memiliki beberapa lembaga pendidikan mulai tingkat TK hingga SMA.

Gembong (4)

Gembong adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Pati. Satu-satunya kecamatan yang mempunyai dua waduk sekaligus, yaitu waduk Gunung Rowo dan Waduk Seloromo, secara geografis, kecamatan Gembong terdapat di lereng Gunung Muria, yang mempunyai kebun kopi yang sangat luas, yaitu terdapat di desa Jolong. Kecamatan Gembong terletak di lereng sebelah timur gunung Muria dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Kudus. Dari ibu kota Kabupaten Pati, berjarak 14 km ke arah barat laut.

Wilayahnya mempunyai luas 6.730 ha yang sebagian besar berupa hutan dan perkebunan. Sebagai daerah yang berada di ketinggian berkisar antara 20-900 meter dpl, kecamatan Gembong memiliki tanah berjenis Latosol. Secara administratif, kecamatan Gembong merupakan kecamatan dengan jumlah desa paling sedikit di Kabupaten Pati karena hanya terdiri atas 11 desa yang terbagi dalam 85 Rukun Warga (RT) dan 276 Rukun Tetangga (RT). Jumlah penduduk kecamatan Gembong sebanyak 40.780 jiwa (tahun 2006) dengan komposisi 20.622 jiwa penduduk laki-laki dan 20.158 jiwa penduduk perempuan. Sebagian besar penduduk kecamatan Gembong berprofesi sebagai petani dengan komoditas utama padi, tanaman buah (rambutan, durian, jeruk) dan tanaman keras.

Dalam bidang ekonomi, masyarakat kecamatan Gembong memiliki sebuah pasar tradisional yang terletak di pusat kota kecamatan. Selain lembaga pendidikan formal juga terdapat berbagai lembaga non formal seperti TK (sebanyak10 buah), RA (sebanyak 10 buah), Pondok Pesantren dan Taman Pendidikan Quran yang tersebar hampir di setiap desa di kecamatan Batangan. Salah satunya adalah Pondok Pesantren Al Ma’arif yang berdiri sejak tahun 1072, Bimbingan belajar GRIYA CERDAS di Desa BERMI http://mitospati.blogspot.com

Tempat-tempat pariwisata di kecamatan Gembong antara lain:

1.    Waduk Seloromo

Waduk ini dibuat oleh Belanda sekitar tahun 1930. Sekarang menjadi sumber pendapatan bagi desa Gembong. Di sekitar waduk sering digunakan sebagai tempat berkemah. Waduk ini terdapat di desa Gembong

Pemandangan nan tenang di Waduk Seloromo (promojateng-pemprovjateng.com)

2.    Waduk Gunung Rowo

Salah satu view dari Waduk Gunugrowo (shw.kotapati.fotopages.com)

 

Waduk Gunung Rowo terletak di desa Sitiluhur, kecamatan Gembong. Luas areal +320 Ha. Menurut catatan Kantor Dinas Permukiman dan Prasarana Daerah setempat, waduk ini dibangun semasa pemerintahan Belanda pada tahun 1928. Waduk Gunung Rowo diperkirakan mampu menampung air sekitar 5,5 juta meter kubik, sekaligus juga sebagai suplai bagi Waduk Seloromo. Dulu Waduk Gunung Rowo bersama Waduk Seloromo mampu mengairi sawah seluas sekitar 10.000 hektar, yang tersebar di wilayah Kecamatan Margorejo, Gembong, Wedarijaksa, Juwana, Tlogowungu, dan Pati.

Di sebelah atas waduk merupakan Bumi Perkemahan yang pernah digunakan sebagai tempat penyelenggaraan Jambore Daerah Gerakan Pramuka Kwarda Jawa Tengah pada tahun 1992. Perkebunan Kopi dan Bumi Perkemahan Jolong. Merupakan perkebunan kopi, pabrik pengolahan kopi dan Bumi Perkemahan yang terletak di lereng Gunung Muria, di desa Sitiluhur berada diketinggian 570-790 m dpl dengan suhu rata-rata berkisar antara 25 – 32 C. Obyek yang dikelola oleh PT Perkebunan Nasional IX ini dan memiliki luas lebih kurang 527 ha ini merupakan peninggalan penjajah Belanda.

Di lokasi ini kita bisa menyaksikan keindahan alam berupa beberapa air terjun kecil, sungai berbatu, jalan setapak di sisi tebing. Selain itu, tempat ini merupakan salah satu jalur pendakian untuk menuju puncak Argojembangan, satu di antara 4 puncak tertinggi di gunung Muria.

Gabus (5)


Gambar Masjid Kecamatan Gabus (id.wikipedia.org/)

Kecamatan Gabus terletak di bagian selatan Kabupaten Pati. Bagian utaranya dibatasi oleh Sungai Juwana. Hal ini mengakibatkan bagian utara kecamatan ini menjadi langganan banjir setiap tahun akibat meluapnya Sungai Juwana. Dahulunya kecamatan ini menjadi bagian dari Kawedanan Kayen.

Kecamatan Gabus terletak tepat di sebelah selatan kota Pati dengan wilayah seluas 5.551 ha (55,51 km²). Merupakan daerah dataran yang sebagian besar merupakan tanah berjenis aluvial yang terletak di ketinggian antara 5 sampai dengan 30 meter dpl. Batas-batas wilayah Kecamatan Gabus yaitu:    Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Pati.    Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Winong.    Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Tambakromo dan Kecamatan Kayen.    Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Kayen.    Perbatasannya dengan Kecamatan Pati di batasi oleh Sungai Juwana.

Kecamatan Gabus memiliki 24 desa yang terdiri atas 75 Rukun Warga (RW) dan 398 Rukun Tetangga (RT). Kecamatan Gabus memilki penduduk sejumlah 55.363 jiwa (2006) yang terdiri atas 26.802 jiwa penduduk laki-laki dan 28.561 jiwa penduduk perempuan. Sebagian besar penduduk kecamatan gabus bermata pencaharian sebagai petani dan buruh di berbagai industri yang terdapat di kota Pati. Dan sebagian lagi menjadi perantau di daerah lain bahkan di luar negeri.

Gunungwungkal (6)

Sawah terasiring di Gunungwungkal (http://pisangkremes.wordpress.com/)

Gunung Wungkal adalah nama kecamatan di kabupaten Pati. Kontur wilayahnya berbukit-bukit. Padi di tanam menggunakan terasering, yakni kondisi lereng yang dibuat bertangga-tangga. Banyak petani menggunakan motor ke sawah-sawah mereka. Hampir semuanya motor bodong (tanpa nomor polisi). Motor-motor itu digeletakkan begitu saja. Salah satunya seperti pada foto di bawah ini. Diletakkan di dalam kali. Untuk menuju sawah, mereka harus berjalan kaki, dan tempatnya tidak bisa dicapai menggunakan motor. Itulah sebabnya motor-motor ini ditinggalkan, sementara pemiliknya menggarap sawah. Sebenarnya cukup sulit menggali info tentang Gunungwungkal, daerah ini sulit dijangkau, sehingga potensi wisatanya yang masih alami belum bisa dinikmati oleh khalayak para wisatawan. (pisangkremes.wordpress.com)

Jaken (7)

Suasana Pasar Ngulakan Jaken (id.wikipedia.org)

Kecamatan Jaken terletak di ujung timur dan tenggara dari Kabupaten Pati yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Rembang. Dahulunya kecamatan ini menjadi bagian dari Kawedanan Jakenan. Ibu kota kecamatan ini terletak 30 km ke arah barat dari ibu kota kabupaten Pati. Batas-batas wilayah Kecamatan Jaken yaitu:    Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Batangan.    Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Sumber Kabupaten Rembang.    Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Pucakwangi.    Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Jakenan.    Di bagian timur di batasi oleh sungai Randugunting yang memisahkan Kabupaten Pati dengan Kabupaten Rembang    Di bagian selatan di pagari oleh Pegunungan Kapur Utara.

Pasar Ngulakan, Jaken, pusat kegitan ekonomi masyarakat setempat. Wilayah kecamatan Jaken mempunyai luas 58,52 km² yang sebagian besar merupakan tanah aluvial dengan ketinggian permukaan tanah antara 10 m sampai dengan 35 meter dpl.

Kecamatan Jaken mempunyai penduduk sejumlah 45.209 jiwa (2006) yang terdiri atas 22.221 jiwa laki-laki dan sisanya 22.998 jiwa perempuan. Mayoritas penduduk kecamatan Jaken berprofesi sebagai petani dengan komoditas utama padi, tebu, bawang merah, lombok, melon dan lain sebagainya. Kecamatan Jaken memiliki 3 pasar tradisional yaitu: Pasar Ngulakan (di desa Sumberarum), Pasar Ronggo (di desa Ronggo), dan pasar Tahunan (di desa Tegalarum)

Jakenan (8)

Kantor lama Kecamatan Jakenan (patijakenan.blogspot.com)

I was Born here, 1990. I always remember it’s name, althought  i seldom visit it since i leave it and move to Jaken. Ngronggo, me and you.. . okay, lets i tell you all about this place…

Jakenan adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Indonesia, Kecamatan ini memiliki kodepos 59182. Pada masa kolonial, Kecamatan Jakenan menjadi ibukota Kawedanan Jakenan yang membawahi Kecamatan Jaken, Jakenan, Pucakwangi, dan Winong.

Kecamatan Jakenan terletak di bagian timur Kabupaten Pati (sekitar 16 km ke arah timur kota Pati). Berada di ketinggian antara 10-25 meter dpl. Tepatnya berada di koordinat 6°45′0″LS,111°11′0″BT,   – 7°4′29″LS,111°9′3″BT Batas-batas Kecamatan Jakenan:    Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Juwana    Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Jaken    Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Pucakwangi dan Winong    Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Pati Kota dan dibatasi oleh sungai terbesar di Kabupaten Pati, Sungai Juwana.

Seluruh wilayahnya terletak di dataran rendah dengan tanah berjenis “aluvial”. Daerah barat yang menjadi Daerah Aliran Sungai Sungai Juwana setiap tahun pada musim penghujan menjadi langganan banjir akibat meluapnya Sungai Juwana. Pada awal tahun 2008, banjir menenggelamkan daerah barat Kecamatan Jakenan hingga kedalaman 3,5 meter yang berlangsung selama lebih dari satu bulan.

Mata pencaharian penduduk Kecamatan Jakenan sebagian besar adalah bertani dengan memanfaatkan lahan pertanian berupa sawah tadah hujan. Sebagian lagi menggantungkan hidup sebagai buruh pada berbagai industri yang ada di kota Juwana dan Pati Kota. Karena minimnya lapangan pekerjaan yang tersedia maka tidak sedikit warga yang pergi merantau ke lain daerah bahkan ke luar negeri, seperti umumnya warga Kabupaten Pati lainnya. Selain padi, produk pertanian daerah ini adalah kedelai dan kacang hijau.

Kecamatan Jakenan mepunya tiga pasar :    Pasar Jakenan yang diberi nama Pasar “GO REJO” Pasar ini digunakan sebagai Pasar Orang dan Pasar Hewan. Pasar ini mulai sepi. Pasar Sembaturagung yang disebut Pasar Jagan bertempat di Desa Sembaturagung dibuka setiap hari. Pasar Banglean yang terdapat di desa Tambahmulyo.

Jalan Raya Jakenan – Pucakwangi sedang dibangun pelebaran dan senderan demi kekuatan jalan . Kecamatan Jakenan pada tahun anggaran 2009 yang telah disetujui mendapat anggaran hanya satusatunya desa adalah desa tanjungsari . yang dalam programnya akan digunakan untuk pemnganunan atau perbaikan aspal jalan desa khusunya dukuhan tanjung. Adapun PNPM dalam programnya akan digunakan untuk melanjutkan program yang telah ada yaitu pewnyenderan jalan desa khusunya jalan dukuhan miri yang menghubungan ke jalan raya Jakenan – Pucakwangi.

Dalam bidang pendidikan non formal, kecamatan Jakenan memiliki 24 TK Taman kanak-kanak, 6 RA Raudlatul Atfal/TK Islam, sejumlah TPQ, Pondok Pesantren dan Majlis Taklim. Dengan semakin banyaknya group musik Dangdut dan Rebana di kecamatan Jakenan membuat penghasilan tambahan bagi warganya. Paling menonjol adalah group musik DangdutOM.EL FATAH dan OM. Salome Jakenan.

Tokoh :

1. K. Ahmad Sholih Lazimun, Merupakan putra dari K Lazimun. Tinggal di Desa Kalimulyo. Meskipun sudah menginjak usia lanjut tetapi semangatnya untuk menyiarkan agama Islam di daerahnya tidak pernah pudar. Tokoh yang hidup sederhana dan bersahaja ini selain mengampu berbagai majlis taklim di daerahnya juga menjabat sebagai Ketua Mutasyar Pengurus MWC. Nahdlatul Ulama Kecamatan Jakenan. Juga menjabat sebagai Ketua Penasehat Yayasan Perguruan Islam Al Lazimiyah. Di Jakenan beliau merupakan ulama yang dianggap paling tua.

2. K. Mubasyir, Tinggal di Desa Sidomulyo Kecamatan Jakenan. Mengasuh berbagai majlis taklim di desa Sidomulyo dan sekitar, menjabat sebagai ketua Syuriyah Pengurus MWC. Nahdlatul Ulama Kecamatan Jakenan. Juga menjabat sebagai Ketua Penasehat Yayasan Pendidikan Islam Miftahul Huda Sidomulyo. Meskipun tergolong suka bercanda namun kadang sikapnya keras tanpa kenal kompromi.

3. KH. Hasanudin,  Tinggal di Desa Tondomulyo. Kelincahan dan kegesitannya dalam berdakwa menjadikannya banyak dikenal di berbagai daerah. Selain membina majlis taklim, beliau juga menjabat sebagai Penasehat Yayasan Pendidikan Tarbiyatul Islamiyah Tambahmulyo dan Penasehat Yayasan Pendidikan Islam Miftahul Huda Tondomulyo.

4. Sukawi Sutarip, (lahir di Pati, 15 Januari 1951; umur 61 tahun) adalah walikota Semarang sejak tahun 2000 dan sekarang periode yang kedua (2005-2010). Karena keberhasilannya memimpin ibukota Jawa Tengah, ketua DPD Partai Demokrat itu mendapat dukungan luas untuk mengikuti Pemilihan Gubernur Jawa Tengah masa jabatan 2008-2013.

Juwana (9)

Peta Kota Juwana (kaskus.us)

Kota Juwana merupakan kota di pesisir utara pulau Jawa yang terletak di jalur pantura yang menghubungkan kota Pati dan kota Rembang. Kota Juwana merupakan kota terbesar kedua di Kabupaten Pati setelah Pati. Di kota ini terkenal dengan industri kerajinan kuningan dan pembudidayaan bandeng.

Nama Juwana kemungkinan berasal dari kata Jiwana, yang berasal dari kata bahasa Sansekerta, jiwa. Dengan demikian, perkataan Jiwana diduga adalah nama “Kahuripan” yang disansekertakan. Pendapat lain mengatakan bahwa Juwana berasal dari kata druju dan wana. Druju adalah nama pohon, sementara wana berarti hutan. Batas-batas Kota Juwana: Utara Laut Jawa, Selatan     Kecamatan Jakenan dan Pati,   Barat Kecamatan Wedarijaksa, Timur Kecamatan Batangan

Merupakan daerah pesisir dan dataran rendah dengan tanah berjenis aluvial dan red yelloy mediteran. Kota ini juga dilalui oleh sungai Juwana (disebut juga sungai Silugonggo) yang menjadi daerah aliran sungai waduk Kedungombo. Sungai terbesar di Kabupaten Pati ini tiap tahun mengakibatkan banjir termasuk di kota Juwana. Luas wilayah kecamatan Juwana adalah 5.593 ha (55,93 km²)

Jumlah penduduk kecamatan Juwana sebanyak 87.484 jiwa (2006) yang terdiri atas 43.565 jiwa laki-laki dan 43.919 jiwa penduduk perempuan. Mayoritas penduduk kecamatan Juwana bermata pencarian sebagai petani, nelayan dan buruh.

Kecamatan ini mempunyai banyak lapangan kerja. Hal yang menjadi ciri khas kecamatan Juwana adalah usaha kerajinan logam kuningan yang sebagian besar terdapat di desa Growonglor dan sekitarnya, serta usaha tambak perikanan di desa Bajomulyo, Agungmulyo dan desa-desa sekitarnya. Dua perusahaan kuningan terbesar dari kota Juwana adalah Krisna & Sampurna.

Kota Juwana juga merupakan kota industri. Pabrik Rokok Djarum mempunyai cabang produksi di Kota Juwana, dan juga Pabrik Rokok Tapel Kuda, yang merupakan salah satu pabrik rokok tertua di Indonesia, basis produksi nya berada di kota Juwana. Selain Pabrik Rokok, kota Juwana juga memiliki pabrik minyak kacang.

Pelabuhan Juwana (suarapati.com)

Pelabuhan Juwana menjadi salah satu tulang punggung kekuatan perekonomian kecamatan Juwana. Pelabuhan ini menjadi salah satu pintu masuk kapal-kapal pengangkut kayu dari Kalimantan. Hasil tambak maupun tangkapan nelayan yang didapat antara lain: bandeng, udang, tongkol, kakap merah, kepiting, ikan pe, cumi, dan kerapu.

Kecamatan Juwana memilikibanyak lembaga pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai Sekolah Menengah Atas. Kwik Kian Gie adalah tokoh nasional kelahiran Juwana.

Kayen (10)

Gua Pancur Kayen (http://patikita.wordpress.com/)

Terletak di kaki pegunungan Kapur Utara, sebuah pegunungan yang membatasi Kabupaten Pati dengan Kabupaten Grobogan. Di lereng pegunungan tersebut, tepat di sebelah selatan desa, terdapat sebah gua besar dan panjang yang disebut sebagai gua Pancur. Gua ini dipenuhi oleh air di dalamnya hingga sebatas pinggang orang dewasa. Di dekat gua inilah, pada tahun 1996 pernah digelar Raimuna Daerah (perkemahan Pramuka Penegak) se-Kwartir Daerah (provinsi) Jawa Tengah.

Margorejo (11)

Kebun Kehati di TPA Margorejo Pati (alamendah.wordpress.com)

Ada suatu yang unik disini. TPA (Tempat Pembuangan Akhir Sampah) Pati bisa menjadi alternatif tempat wisata lokal bagi warga kota Pati dan sekitarnya. TPA yang terletak di desa Sukoharjo Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati ini awalnya seperti berbagai Tempat Pembuangan Akhir Sampah lainnya yang yang identik dengan gundukan sampah dan bau busuk.

 

Namun mulai beberapa tahun terakhir, Dinas Pekerjaan Umum Kab. Pati sebagai pengelola TPA Margorejo, berusaha mengubah itu. TPA Pati diharapkan menjadi tempat penimbunan dan pengelolaan sampah berbasis edukasi lingkungan hidup.

Selain menjadi tempat pembuangan akhir sampah, TPA ini diharapkan dapat menjadi ruang publik dan wahana rekkreasi alternatif yang bersifat edukatif bagi warga Pati dan sekitarnya. Selain dapat melihat proses pengolahan sampah, di TPA Margorejo Pati masyarakat dapat juga menikmati kebun binatang mini, arena outbond dan bumi perkemahan, taman kehati (keanekaragaman hayati), dan taman bacaan. Dan uniknya, semua itu dapat dinikmati dengan gratis.

Dalam mengelola sampah, TPA Pati menggunakan metode Controlled Land Fill yaitu Sampah dibuang lubang berukuran besar kemudian ditimbun dengan lapisan tanah dan dipadatkan. Penimbunan dilakukan berulang kali sehingga lubang penuh. Lubang yang telah penuh (disebut zona non aktif) inilah yang kemudian digunakan sebagai ruang publik.


Kebun Binatang mini dan TPA di Margorejo Pati (http://alamendah.wordpress.com)

Kebun Binatang Mini TPA Pati. Mungkin terlalu kecil untuk dikatakan sebagai kebun binatang. Karena memang keseluruhan koleksi binatang di kebun binatang mini TPA Pati ini berasalkan dari sumbangan warga kota Pati dan sekitarnya. Namun keberadaan kebun binatang mini di TPA Margorejo pati ini telah menjadi daya tarik utama bagi warga pati dan sekitarnya untuk mengunjungi dan berekreasi di Tempat Pembuangan Akhir Sampah ini.

Koleksi hewan yang bisa ditemui di kebun binatang mini TPA Pati diantaranya adalah merak hijau (Pavu muticus), rusa (Cervus sp.), burung kakatua (Cacatua sulphurea), Siamang (Symphalangus syndactylus), elang laut (Haliaeetus leucogaster), monyet, ular sanca (Python sp.), serta beberapa jenis monyet dan burung.

Sayangnya, tampaknya pihak TPA belum memiliki tenaga ahli untuk mengurus koleksi satwa yang dimilikinya. Sehingga beberapa binatang tampak stress dan kurang terurus. Di satu pihak keberadaan kebun binatang mini ini mampu menjadi sarana edukasi, namun di sini lain muncul kemirisan akibat kurang diindahkannya aspek animal welfare (kesejahteraan hewan) di sini.

Margoyoso (12)

Makam Mbah ahmad Mutamakkin (bkm-charisma.blogspot.com)

Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani, petani tambak, nelayan, wiraswasta dan buruh. Margoyoso dikenal dengan industri tepung tapioka, tepatnya di Desa Ngemplak Kidul. Kecamatan ini terdapat wisata religi Makam Syekh Ronggo Kusumo (di Desa Ngemplak Kidul) dan Makam Syekh Akhmad Mutamakkin (di Desa Kajen), serta wisata alam Tambak Buntu (di Desa Purworejo). Batas-batas wilayah Kecamatan Margoyoso yaitu:    Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Tayu dan Kecamatan Gunungwungkal    Sebelah timur berbatasan dengan Laut Jawa.    Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Trangkil.    Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Tlogowungu dan Kecamatan Gunungwungkal.

Pati (14)

Wellcome’s Gate of Pati City (zulilestari.blogspot.com)

Batas-batas wilayah Kecamatan Pati yaitu:  Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Wedarijaksa. Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Juwana dan Kecamatan Jakenan.  Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Gabus. Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Margorejo dan Kecamatan Wedarijaksa.

Pucakwangi (15)

Amazing panorama at Pucakwangi, in good moment (panoramio.com)

Kecamatan Pucakwangi terletak di sebelah tenggara Kabupaten Pati. Dahulunya kecamatan ini menjadi bagian dari Kawedanan Jakenan. Batas-batas wilayah Kecamatan Pucakwangi yaitu:  Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Jakenan.  Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Jaken.  Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Todanan Kabupaten Blora.
* Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Winong. Di bagian selatan di batasi oleh Pegunungan Kapur Utara yang memisahkan Kabupaten Pati dengan Kabupaten Blora.

Sukolilo (16)

Suku Samin (kawruh-kejawen.blogspot.com)

Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) merupakan kumpulan masyarakat yang menolak rencana pendirian Pabrik Semen di Sukolilo-Pati. Kecamatan ini kaya dengan batuan kapur (karst). Oleh karenany, Pabrik semen Gresik tertarik untuk mendirikan pabrik di sini, dan disebabkan kasus ini pulalah nama kecamatan ini menjadi cukup populer akhir-akhir ini.

Kawasan karst aset dan sekaligus catatan panjang dari sepenggal sejarah bumi dan kehidupan di suatu wilayah. Sebagai aset, kawasan ini memiliki beragam keistimewaan. Bentang eksokarstnya unik  dan berbeda dengan wilayah sekitarnya. Di ruang endokarstnya, keunikan-keunikan lain semakin banyak dijumpai. Ragam bentukan gua, lorong-lorong sungai bawahtanah, dan ornamen-ornamen batuan yang indah hanya dapat dijumpai di sini. Bahkan tak terpungkiri jika kawasan karst menjadi salah satu “lumbung air” yang sangat menentukan eksistensi makhluk hidup, dari masa ke masa. Secara arkeologis, kawasan karst ibarat “ensiklopedi” kehidupan purba yang sarat informasi. (http://blog.ugm.ac.id/)

Kawasan karst ini juga merupakan salah satu aset geokultural di wilayah utara Jawa Tengah. Potensi arkeologisnya sudah mulai terungkap melalui survei awal tahun 2008 oleh PEKINDO,  berupa sejumlah besar situs gua dan data artefaktual (jse yuwono & greg d. kuswanto, 2008). Secara makro, Sukolilo memiliki posisi penting dalam pengungkapan sejarah penghunian wilayah utara Jawa, khususnya di Perbukitan Kapur Utara (Perbukitan Rembang), melengkapi hasil-hasil penelitian arkeologis yang selama ini lebih terkonsentrasi di Tuban. (http://blog.ugm.ac.id/)

Tambakromo (17)

Lapangan Tambakromo, Ponjong (panoramio.com)

Kecamatan Tambakromo terletak di bagian selatan Kabupaten Pati. Bagian selatannya merupakan bagian dari Pegunungan Kapur Utara yang sekaligus menjadi pembatas dengan Kabupaten Grobogan. Dahulunya kecamatan ini menjadi bagian dari Kawedanan Kayen.

Batas-batas wilayah Kecamatan Tambakromo yaitu:    Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Gabus.    Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Winong.    Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Grobogan    Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Kayen.

Trangkil (18)

Pabrik Gula Trangkil (http://deeadewie.wordpress.com/)

Kecamatan Trangkil merupakan hasil pemekaran dari kecamatan Wedarijaksa. Kecamatan ini beribu kota di desa Trangkil. Kecamatan Trangkil terletak lebih kurang 11 km ke arah utara kota Pati. Terletak di ketinggian antara 1-36 meter dpl, wilayah kecamatan Trangkil terdiri dari tanah Regasol, Latosol dan sebagian lagi berjenis Red yellow mediteran. Dengan luas wilayah seluas 4.284 ha yang terdiri atas lahan persawahan seluas 1.035 dan lahan bukan sawah seluas 3.249. Dengan luas wilayah ini, kecamatan Trangkil merupakan kecamatan dengan wilayah tersempit ketiga di Kabupaten Pati setelah kecamatan pati dan kecamatan Wedarijaksa.

Secara administratif, kecamatan trangki, memiliki 16 desa yang terbagi ke dalam 60 Rukun Warga (RW) dan 375 Rukun Tetangga (RW). Penduduk kecamatan Trangkil berjumlah 60.335 jiwa (2006) dengan komposisi 29.805 jiwa laki-laki dan sisanya 30.530 jiwa perempuan. Sebagian besar penduduk kecamatan Trangkil berprofesi sebagai petani dengan komoditas utama padi, tebu, palawija dan tanaman buah. Dalam bidang ekonomi, masyarakat kecamatan Trangkil memiliki 2 buah pasar tradisional yang salah satunya terletak di pusat kota kecamatan.

Salah satu Gedung YPRU dan Foto Tokoh Utama dibalik masa keemasan YPRU, Yi Humam Suyuthi Alm. (ypru-undertracker.blogspot.com)

Di kecamatan ini terdapat madrasah yang terkenal, yaitu YPRU (Yayasan Perguruan Raudlatul Ulum), yang didirikan oleh salah seorang murid pendiri NU K.H Hasyim Asy’arie, yaitu K.H. Suyuthi Abdul Qodir (alm). Saat ini YPRU memiliki 3.700 siswa dan siswi TK, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah. Yayasan ini didanai oleh pemerintah daerah dan para hartawan. Untuk tingkat Tsanawiyah, SPP gratis.

Banyak lulusan YPRU yang diterima di perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, seperti UGM,ITS,UIN Jakarta,UIN Yogya ,STAN,UNDIP,Politeknik,UNEJ,UNS,Unnes,UNY,Unibraw,IKIP Malang,Unair dan ITB. Banyak juga yang diterima di berbagai universitas di Mesir dan Malaysia. YPRU telah lama menjalin hubungan baik dengan Universitas Al Azhar, Mesir. Al Azhar secara rutin mengirimkan guru bantu ke yayasan ini.

Di kecamatan Trangkil terdapat sebuah pabrik gula yaitu PG. Trangkil. Pabrik ini telah berdiri sejak tahun 1835, kapasitas giling terpasang awal ketika didirikan adalah 800 tth. Hingga tahun 2005 PG Trangkil melakukan Program Pengembangan PT Kebon Agung dengan sasaran kapasitas giling 4.500 tth. Pabrik gula Trangkil terletak di desa Trangkil.

Tlogowungu (19)

Air terjun Santi, Tretes (http://id.wikipedia.org/)

Tlogowungu adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Indonesia. Kecamatan Tlogowungu yang terletak lebih kurang 6 km di sebelah utara kota Pati merupakan salah satu kecamatan yang berada di sisi sebelah timur lereng Gunung Muria. Dari keadaan geografi tersebut menjadikan kecamatan ini sebagai salah satu daerah pertanian yang subur. Komoditas utama daerah ini adalah padi, aneka buah-buahan, dan tanaman keras seperti pohon jati. Selain itu budi .

Kecamatan Tlogowungu terletak hanya 6 km ke arah utara dari pusat ibu kota Kabupaten Pati. Berada di sisi timur lereng gunung Muria kecamatan ini berada di ketinggian antara 20-312 meter dpl. Batas-batas wilayah Kecamatan Tlogowungu yaitu:    Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Gunungwungkal.    Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Margoyoso.    Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Pati.    Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Gembong.

Wilayahnya seluas 9.446 ha yang merupakan kecamatan dengan wilayah terluas kelima setelah kecamatan Sukolilo, kecamatan Pucakwangi, kecamatan Winong dan kecamatan Kayen. Tanah di kecamatan ini berjenis tanah latosol dan red yellow mediteran.

Secara administratif, kecamatan Tlogowungu hanya terdiri atas 15 desa yang terbagi dalam 70 Rukun Warga (RW) dan 318 Rukun Tetangga (RT). Dibandingkan dengan kecamatan lainnya di Kabupaten Pati, kecamatan Tlogowunggu, bersama kecamatan Gunungwungkal merupakan kecamatan dengan jumlah desa paling sedikit keempat setelah kecamatan Gembong, kecamatan Dukuhseti dan kecamatan Cluwak.

Penduduk kecamatan Tlogowungu berjumlah 49.556 jiwa (2006) dengan komposisi 24.625 jiwa laki-laki dan sisanya 24.391 jiwa perempuan. Sebagian besar penduduk kecamatan Tlogowungu berprofesi sebagai petani dengan komoditas utama padi, tanaman buah dan tanaman keras.

Dalam bidang ekonomi, masyarakat kecamatan Gembong memiliki 2 buah pasar tradisional yang salah satunya terletak di pusat kota kecamatan.

Tempat-tempat pariwisata di kecamatan Tlogowungu antara lain:

1.    Sendang Tirta Marta Sani (Sendang Sani)

Terletak di Desa Tamansari Kecamatan Tlogowungu. Konon, Sendang Seni adalah sebuah sumber air dimana Sunan Kalijogo akan mengambil air wudlu tetapi sebelum digunakan oleh beliau air tersebut digunakan terlebih dahulu oleh pengawalnya. Oleh Sunan Kalijaga, pengawal itu disabda menjadi seekor bulus. Hingga sekarang di komplek sendang itu masih dijumpai binatang bulus (kura-kura). Di komplek obyek ini terdapat Makam Adipati Pragola beserta pengawalnya dan masih dianggap keramat oleh masyarakat sekitarnya. Dan setiap tahun tepatnya bulan mulud (Rabiul Awal) selalu diadakan prosesi oleh Yayasan Handodento.

Fasilitas yang terdapat di obyek ini antara lain:    Paseban (tempat untuk mengheningkan diri mohon kepada Sang Pencipta).    Padusan (tempat mandi yang airnya diambil dari Sendangsani yang sementara dipercayai membawa berkah).    Kolam renang (sarana rekreasi anak-anak dan remaja).    Pemancingan ikan,    Pendopo (sarana pentas kesenian Pati).    Areal Parkir yang luas.

2.    Bumi Perkemahan Regaloh

Bumi Perkemahan Regaloh (http://id.wikipedia.org)

Bumi perkemahan Regaloh (Agrosilvo) Tlogowungu, salah satu bumi perkemahan di Pati yang masih terawat. Merupakan sebuah area bumi perkemahan yang dikelola oleh Perum Perhutani Regaloh yang terletak di desa Regaloh, sekitar 1 km ke arah utara ibu kota kecamatan Tlogowungu. Bumi Perkemahan yang mampu menampung ribuan peserta ini merupakan salah satu tempat berkemah tervaforit di Kabupaten Pati selain Bumi Perkemahan Jolong.

Selain Bumi Perkemahan fasilitas yang tersedia antara lain:    Taman rekreasi keluarga    Wisma,    Hutan bambu,    Hutan Jati,    Perkebunan Murbei,    Peternakan Ulat Sutra,    Peternakan Tawon Madu, Air terjun Santi  (Tretes, satu dari dua air terjun Santi. Satunya lagi disebut Jenar)

Terletak di pada lereng gunung Muria di desa Gunungsari kecamatan Tlogowungu. Air tenjun kecil ini terdiri atas dua kelompok yang pertama dinamakan “Tretes” terletak di sebelah bawah di sisi sungai. Air terjun kedua dinamakan “Jenar” terletak di sebelah atas. Air terjun kedua ini lebih besar dan tinggi dari pada air terjun yang pertama.

Komplek air terjun terletak di tengah-tengah perkebunan kopi milik warga dan agak jauh dari jalan raya. Untuk mencapainya hanya pengunjung harus berjalan kaki melalui jalan setapak sejauh lebih dari 500 meter. Untuk kesana biasanya lewat dukuh santi desa Gunungsari dan juga bisa melalui jalur selatan yaitu lewat dukuh jentir desa Tajungsari. Kondisi ini membuat objek wisata ini belaum dapat dikelola dengan baik.

Tayu (20)

Suasana di alun-alun Kota Tayu (bismania.com)

Kecamatan Tayu merupakan kecamatan termaju ketiga di Kabupaten Pati setelah kecamatan Pati dan kecamatan Juwana. Terletak lebih kurang 27 km ke arah utara kota Pati, tepat di jalur yang menghubungkan Pati dengan Jepara.

Kecamatan ini berada di keinggian antara 1 – 41 meter dpl dan sebagaimana daerah lain di kabupaten Pati bagian utara, Tanah di Kecamatan Tayu terdiri atas tanah Aluvial, Red Yellow dan regosol. dengan luas 4.759 ha yang terdiri atas 2.038 ha lahan sawah dan sisanya seluas 2.721 ha lahan non sawah.

Batas-batas wilayah Kecamatan Tayu yaitu:    Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Dukuhseti.    Sebelah timur berbatasan dengan Laut Jawa.    Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Margoyoso.    Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Gunungwungkal dan Kecamatan Cluwak .

Secara administratif, Tayu terbagi dalam 22 desa yang memiliki 72 Rukun Warga (RW) dan 368 Rukun Tetangga (RT). Tayu, mempunyai penduduk sebanyak 68.545 jiwa yang terdiri atas 34.074 penduduk laki-laki dan 34.471 penduduk perempuan.

Wedarijaksa (21)

Gambar salah satu Tambak di Asempapan (deeadewie.wordpress.com)

Dulunya merupakan satu kecamatan dengan kecamatan Trangkil. Kecamatan ini beribu kota di desa Wedarijaksa. Kecamatan Wedarijaksa terletak lebih kurang 9 km ke arah utara kota Pati. Terletak di ketinggian antara 1-28 meter dpl, wilayah kecamatan Wedarijaksa terdiri dari tanah Regasol, Latosol dan sebagian lagi berjenis Red yellow mediteran. Dengan luas wilayah seluas 4.085 ha yang terdiri atas lahan persawahan seluas 1.967 dan lahan bukan sawah seluas 2.118. Dengan luas wilayah ini, kecamatan Wedarijaksa merupakan kecamatan dengan wilayah tersempit kedua di Kabupaten Pati setelah kecamatan pati.

Batas-batas wilayah Kecamatan Wedarijaksa yaitu:    Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Trangkil dan Laut Jawa.    Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Juwana dan Laut Jawa.    Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Pati.    Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Tlogowungu. Secara administratif, kecamatan Wedarijaksa, memiliki 18 desa yang terbagi ke dalam 57 Rukun Warga (RW) dan 338 Rukun Tetangga (RW). Penduduk kecamatan Wedarijaksa berjumlah 57.666 jiwa (2006) dengan komposisi 28.630 jiwa laki-laki dan sisanya 29.036 jiwa perempuan.

Sebagian besar penduduk kecamatan Wedarijaksa berprofesi sebagai petani dengan komoditas utama padi, tebu, palawija dan tanaman buah. Selain itu tidak sedikit pula yang berprofesi di bidang niaga, industri rumah tangga dan pelayanan jasa. Dalam bidang ekonomi, masyarakat kecamatan Wedarijaksa memiliki 6 buah pasar tradisional yang salah satunya terletak di pusat kota kecamatan.

Winong (22)

Rencana Pengeboran minyak di kawasan Gunung Panti, Winong kidul (apakabarpati.com)

Kecamatan Winong terletak di tenggara Kabupaten Pati. Sebagian wilayahnya berada di Pegunungan Kapur Utara. Dahulunya kecamatan ini menjadi bagian dari Kawedanan Jakenan. Ibukota Kecamatan Winong merupakan salah satu kota terbesar di Kabupaten Pati setelah Pati Kota, Juwana, dan Tayu. Selain itu juga dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan di Kabupaten Pati.

Batas-batas wilayah Kecamatan Winong yaitu:    Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Jakenan.    Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Pucakwangi.    Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Todanan Kabupaten Blora.    Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Gabus. Di bagian selatan di batasi oleh Pegunungan Kapur Utara yang memisahkan Kabupaten Pati dengan Kabupaten Blora.

Kesenian Pati

1. Barongan Seni Budoyo

2. Ketoprak “Siswo Budoyo”

Saat ini menurut catatan yang ada di sana masih ada 10 lebih grup atau rombongan kethoprak yang setiap waktu menerima permintaan tanggapan bagi warga masyarakat yang membutuhkan. Salah satu grup kethoprak papan atas yang saat ini masih setia menemui penggemarnya adalah “ Siswo Budayo “ dari desa Growong Lor kecamatan Juana kabupaten Pati. Kethoprak dengan pimpinan Anom ada sejak tahun 1989 dan dengan berjalannya waktu kethoprak ini terus menghibur masyarakat dan juga melestarikan tradisi Jawa di berbagai tempat.

salah satu adegan kethoprak siswa budaya

“ Kethoprak Siswa Budaya ini umurnya sudah 20 tahun lebih menemui penggemarnya di berbagai tempat , tidak hanya di Jawa Tengah saja grup kami juga sering manggung pentas sampai ke Jawa Timur dan juga ibu kota Jakarta. Selain nguri-nguri kesenian tradisional agar tidak punah kami-kami ini para seniman kethoprak juga nunut urip hidup dari kesenian kethoprak ini “ aku Darno sang sutradara kethoprak “Siswa Budaya “ yang ditemui saat pentas di kabupaten Demak belum lama ini.

Kethoprak “ Siswa Budaya “ ini menurut Darno meskipun home basenya di Pati namun pemain
atau senimannya merupakan kolaborasi antar daerah . Selain seniman dari Pati sendiri , ada juga seniman kethoprak dari Purwodadi , Solo , Klaten Jawa Tengah dan juga kota Ngawi, Bojonegoro, Tulung Agung Jawa Timur yang ikut pentas menghibur masyarakat. Para pemain tersebut biasanya merupakan seniman yang termasuk handal di daerahnya namun tidak ada wadah atau grup yang menaunginya . Selain itu pemain ini biasanya mempunyai ketrampilan khusus yang dapat memikat penonton , sehingga kehadirannya selalu dinantikan penonton seperti halnya pemain film atau sinetron. Di kethoprak “ Siswa Budaya “ ini banyak seniman handal yang bergabung disini oleh karena itu jika pas tanggapan ramai mereka tidak pernah pulang kampung karena selalu mengikuti perjalanan tobong menemui pemirsanya.

“ Alhamdulillah untuk bulan Apit ini grup kami sebulan penuh tidak pernah lowong menghibur masyarakat dalam rangka sedekah bumi , sedekah laut di Pati sendiri dan juga daerah lainnya. Untuk bulan-bulan lain seperti Agustus juga banyak tanggapan jika dihitung setahun kami bisa manggung 150 kali “ ujar Darno yang main kethoprak sejak tahun 1976.

Penonton penuh perhatian melihat pertunjukan kethoprak

Ketika ditanya tentang cerita yang dipentaskan grup kethoprak Siswa Budaya , Darno yang juga berperan sebagai pemain mengatakan , ada 150 cerita yang dapat dipilih menurut selera . Lakon atau cerita itu biasanya berwujud babad atau cerita rakyat yang disusun berdasarkan buku-buku yang ada . Selain itu pula lakon bisa didapat dari mulut ke mulut dari orang-orang tua dulu yang kemudian disusun menjadi cerita baru yang kemudian dipentaskan dalam panggung. Namun agar pentas tidak membosankan cerita itu dikemas sedemikian menarik dengan bumbu-bumbu yang memikat penonton . Misalnya dengan menambah tari-tarian , lawak , dan juga lagu-lagu kini seperti ndangdhut dan campur sari. Selain itu di setiap penampilan tehnik penataan panggung atau property setiap waktu juga diganti agar tidak membosankan , seperti penataan lampu , suara dan juga penampilan pemain.

Oleh karena itu meskipun kesenian tradisional namun kethoprak “ Siswa Budaya “ saat ini mampu memikat para penontonnya dengan mengkolaborasikan seni modern di dalamnya , misalnya untuk musiknya selain gamelan juga ada organ , drum dan yang lainnya. Cerita yang ditampilkan juga mampu memikat penonton dari berbagai kalangan baik tua maupun muda , misalnya dengan menyajikan adegan romantic yang menggemaskan , adegan perang dengan unsur akrobatik yang mencengangkan dan tidak ketinggalan lawakan-lawakan yang lucu dan menggelikan. Oleh karena itu tidak mengherankan jika ada pentas kethoprak “ Siswa Budaya” ini penonton yang melihatnya selalu berjubel dari berbagai kalangan.

Seperti halnya pentasnya di desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak , pasar ikan yang menjadi arena pentas kethoprak dipenuhi oleh ratusan penonton dari desa-desa seputaran Kedungmutih. Dengan banyaknya penonton tersebut membuat kegembiraan tersendiri Kepala Desa Kedungmutih Hamdan yang memang menyukai kesenian wayang dan ketoprak ini. Sehingga setiap tahun dalam masa kepemimpinannya dalam acara sedekah bumi dan laut pasti menggelar dua kesenian secara bergantian , khusus tahun ini dua pentas sekaligus yaitu wayang dan kethoprak.

Panggung kethoprak dari jauh dengan penonton yang membludak

Bagi pembaca atau siapa saja yang menyukai kesenian kethoprak ini dan ingin nanggap atau mendatangkan bisa berhubungan langsung dengan pimpinan kethoprak “Siswa Budaya “ Anom Sudarsono yang beralamatkan di desa Bakaran Wetan kecamatan Juana kabupaten Pati . Atau bisa menghubungi sang sutradara Darno Dk. Ngalian Desa Wonorejo kecamatan Tlogowungu kabupaten Pati NoHP: 085290328967. (FM)

(sumber: http://myzone.okezone.com/content/read/2010/11/19/3807/kethoprak-siswa-budaya-pati-kesenian-rakyat-yang-tetap-lestari  diakses tanggal 05/04/2012)

3. Tayuban Pati

Kesenian Tayub atau Tayuban merupakan suatu kesenian Jawa yang memperlihatkan keindahan serta keserasian gerak(tarian) yang dibarengi dengan alunan gamelan Jawa serta lantunan-lantunan tetembangan-tetembangan. Diberbagai daerah-daerah tertentu kesenian tayub ini berbeda-beda wujudnya, seperti perbedaan dalam cara pengiringannya, latarnya, setinggnya, penyajiannya, dll

Kesenian Tayub di Pati mungkin sudah tidak asing lagi bagi masyarakat setempat, itu dikarenakan Tayub di Pati ini sudah turun temurun dari zaman dahulu. Pagelaran Tayub di Pati ini masih terbilang stabil, bahkan pada akhir-akhir ini sedang melonjak atau pamornya sedang meningkat. Untuk kelangsungan hidupnya, Tayub di Bumi Mina Tani ini mengandalkan kelangsungan hidupnya dari permintaan-permintaan tanggapan. Masyarakat setempat yang masih menggunakan Pagelaran Tayub ini sebagai pemeriah atau untuk memeriahkan acara-acara keluarga maupun acara-acara tertentu, seperti: acara pernikahan, Khitanan, tasyakuran serta hampir semua masyarakat desa setempat yang sampai sekarang masih mengadakan ritual sedekah bumi atau sedekah laut membuat permintaan terhadap tanggapan kesenian Tayub ini masih tetap berlangsung sampai saat ini. Apalagi pada hari-hari tertentu, seperti hari-hari baik dalam penanggalan jawa, sasi Sura dan Pasa permintaan terhadap Keseniaan Tayub ini menjadi melonjak dan pada waktu tersebut tidak sulit untuk menjumpai pagelaran Tayub di Pati ini.

Dalam pagelaran Tayub, di dalam memeriahkan suatu acara tertentu, para tamu undangan biasanya menjadi lebih meningkat/banyak, itu dikarenakan ikut berperan aktifnya para tamu undangan tersebut dalam pagelaran Tayub tersebut, yaitu sebagai Penari Pria (penayub). Sehingga membuat minat Tamu undangan menjadi lebih tinggi.

Di dalam melakukan Pementasannya, Tayub di Pati ini kebanyakan menggunakan Panggung sebagai tempat untuk melakukan pagelarannya, biasanya sisi belakang panggung ditempati Gamelan serta Waranggono dan sisi depannya digunakan untuk pementasannya. Sedangkan untuk waktu Pagelaran Tayub tersebut biasanya dilakukan pada saat siang atau pun malam serta lebih sering siang dan malam tergantung penanggapnya, biasanya pentas siang sekitar pukul 12.30-16.30 sedangkan malam pukul 20.30- 03.0. Biasanya dalam suatu pagelaran Kesenian Tayub, apabila para tamu undangan ingin menjadi Penari Pria (Penayub) mereka harus mendaftar terlebih dahulu kepada para orang yang bertugas mencatati daftar Penayub, kemudian menyerahkannya catatannya kepada Pranataacara (Pembawa Acara) yang kemudian Pranata Acara tersebut memanggil Para Penayub yang sudah terdaftar untuk menari diatas Panggung.

Dalam pelaksanannya Tayub di Pati ini, penari wanita (ledhek) ini di kelilingi depan belakang oleh Penari pria (penayub) dalam pementasannya, contohnya : apabila ada 5 orang ledhek dalam pagelaran tersebut, berarti jumlah Penari Prianya (penayub) ada 10, yang berhadapan dengan Ledheknya 5 penayub sedangkan yang dibelakangi Ledheknya 5 penayub. Kemudian setiap setengah pagelaran para penari prianya memutari penari wanita melingkar 180 derajat. dan penari wanitanya kemudian berpindah hadapan 180 derajat juga, sehingga penari pria dan wanita yang sebelum memutar tadi berhadap-hadapan dan setelah memutar menjadi berhadap-hadapan kembali.

Tembang serta irama  Tayub di Pati lebih cokekan (musiknya lebih keras) dibandingkan dengan daerah-daerah lain. Tembang-tembang yang dibawakan dalam pementasan Tayub di Pati sekarang ini juga mulai mengikuti permintaan pasar, dalam artian lagu-lagunya tidak melulu tembang-tembang Jawa dan mulai merambah ke lagu-lagu pop yang sedang populer.

Namun minat para generasi muda terhadap Kesenian Tayub ini semakin menurun, sehingga Kesenian Tayub ini lama-kelamaan dapat termakan zaman. Oleh karena itu re-generasi atau pengenalan generasi muda terhadap kesenian Tayub ini sangat diperlukan agar Kesenian Tayub ini tetap ada. Dalam hal ini peran pemerintah serta masyarakat sangat diperlukan, untuk saling bekerja sama melestarikan kesenian Tayub ini. Sehingga membuat Kesenian Tayub ini tidak akan pernah Mati dan tetap Lestari. (Arif Novianto)

Nyam-Nyam.. Sruput..

Wah, wah. Postingan awal udah nyangkut masalah perut nih..he he he :)

Lain ladang lain tanaman, lain daerah lain makanan. Pati punya cerita sendiri kalau masalah kuliner. Secara umum lidah orang jawa tengah tuh sukanya yang gurih, manis dan sedikit pedes. Iya gak sob? gak juga gak papa gue gak maksa elo (just kidding, cause it’s my opinion). Oke, lanjut… setelah hunting di internet, gue nemuin beberapa jenis kuliner khas Pati. Let’s see it bro, nyum-nyum… yummy.. :

1.       Nasi Gandul

Nasi gandul adalah sajian khas Pati, Jawa Tengah. Dilihat sepintas, ia sangat mirip dengan nasi pindang dari Kudus, tetapi tanpa daun so (daun melinjo muda). Kalau nasi pindang kudus adalah hasil persilangan antara soto dan rawon, maka nasi gandul pati adalah persilangan antara soto dan gule. Nasi gandul memang lebih nendang dan mlekoh rasanya bila dibanding dengan nasi pindang.

Sajian ini merupakan kombinasi dari dua masakan yang masing-masing dimasak dengan bumbu sangat kaya. Elemen pertama adalah empal daging sapi (juga termasuk jeroan) yang dimasak dalam bumbu-bumbu harum, kemudian digoreng sebentar. Empalnya sudah gurih bila dimakan begitu saja.

Elemen kedua adalah kuah santan yang juga sangat gurih. Rasa jintan dan ketumbar mencuatkan citarasa gulai atau kari India. Sedangkan lengkuas dan bawang putih mewakili unsur-unsur soto yang populer di Jawa. Diperkaya dengan bumbu-bumbu lain, diikat dengan santan yang membuatnya sungguh mak nyuss.

Tidak semua penjual nasi gandul – baik di Pati, maupun di kota-kota lain – menyajikannya dengan cara yang sama. Tetapi, yang pasti, hampir semua penjual nasi gandul memakai alas piring dari daun pisang. Tampaknya ini merupakan ciri penting yang tidak boleh tidak. Sebagian penjual memakai gunting untuk memotong-motong daging maupun jeroan. Cara menggunting ini juga populer dilakukan di Kudus, misalnya ketika menyajikan nasi pindang. Para penjual nasi kari ayam di Medan pun menggunakan gunting untuk memotong-motong daging ayam. Ada penjual nasi gandul yang menuang kuah di atas nasi, kemudian menggunting-gunting empal di atasnya. Tetapi, ada pula yang menggunting empalnya dan menaburkannya di atas nasi, baru kemudian dituangi kuah. Di atasnya ditaburi bawang merah goreng yang renyah.

Mengapa disebut nasi gandul? Pertanyaan sederhana ini ternyata sulit menemukan jawabnya. Hampir tidak ada jawaban memuaskan, termasuk dari mereka yang berdagang nasi gandul. Satu-satunya jawaban yang agak masuk akal adalah karena nasi dan kuahnya “gemandul” (bergantung) di atas piring yang terlebih dulu dialasi daun pisang.

Lauk wajib untuk nasi gandul adalah tempe goreng. Seperti terlihat di foto, tempenya adalah jenis yang dibungkus individual. Tipis, padat, dan kering. Teksturnya yang garing itu sangat padan dengan tendangan kuah nasi gandul yang mantap. Tentu saja, lauk-pauk gorengan lainnya juga cocok untuk mendampingi nasi gandul. Kalau sedang di Pati, makanan berkuah nan gurih ini paling cocok disantap dengan didampingi es sirup kawista yang aromanya sangat harum. (sumber: http://us.food.detik.com/ diakses 04/04/2012)

2.       Soto Kemiri

Salah satu makanan khas dari Kabupaten Pati selain nasi gandul, adalah Soto Kemiri. Seperti soto dari daerah lain yang lebih dahulu dikenal masyarakat seperti Soto Kudus, Soto Kemiri juga menggunakan daging ayam (soto ayam). Makanan khas ini membutuhkan bumbu brambang (bawang merah), bawang putih, kencur, kemiri, lengkuas, jinten, merica, jahe, dan santan. Soto kemiri biasa disajikan tanpa penyedap makanan. Cara memasak soto kemiri pun tidak sulit, cukup menggunakan kuali dari bahan tanah liat serta dipanaskan dengan bahan bakar kayu. Salah satu cara menengarai soto khas Pati ini adalah aroma kemirinya yang lebih menonjol dan kuahnya lebih encer dibanding soto dari daerah lain.

Cara penyajiannya pun unik, yaitu setelah mangkuk yang telah berisi nasi, irisan daging ayam, dan taoge lalu diberi kuah setelah itu kuah dari mangkuk tadi dituang kembali kedalam kuali, demikian diulangi beberapa kali sehingga rasa gurih bisa sangat terasa. Karena cara penyajian seperti ini Soto Kemiri juga dikenal sebagai Soto Kopyok.

Lauk yang disajikan sebagai pelengkap sama seperti kebanyakan soto-soto ayam yang lain tapi yang membedakan adalah ukurannya, karena ayam yang digunakan adalah ayam dere maka ukurannya pun kecil-kecil sehingga kalo tidak terkontrol bisa menghabiskan sepiring lauk. (sumber: http://www.kaospatioblong.com/ ,diakses 04/04/2012)

3. Kerupuk Bakso/Daging

4. Petis Runting

5. Getuk Runting

6. Bandeng Presto Juwana

7. Trasi Asli Juwana dan sekitarnya

8. Kecap Asli Pati

9. Es Sirup Kawista

Asal Usul “Pati Bumi Mina Tani”

PATI BUMI MINA TANI (PBMT)

Slogan ini dibuat berdasarkan karakteristik geomorfologi Kabupaten Pati yang memang memiliki dataran tinggi dan rendah, fungsi lahan Pertanian dan Perikanan. Sekilas, ketika saya mengingat slogan ini langsung terbayang konsep agropolitan dan minapolitan yang banyak digembar-gemborkan akhir-akhir ini di berbagai wilayah di Indonesia.

Gunung Muria, secara administratif terbagi oleh 3 Kabupaten: Jepara, Kudus dan Pati. Karakteristik penggunaan lahannya di bagian utara banyak digunakan sebagai areal pertambakan garam maupun ikan. Sama halnya dengan daerah-daerah Pantura Pulau Jawa, Kabupaten Pati memiliki karakter pantai berlumpur hitam dan sebagian ditumbuhi hutan bakau. Sementara itu, di dataran rendahnya dapat dijumpai fungsi pertanian, perkebunan, perikanan air tawar dan peternakan. Berbeda halnya dengan daerah lereng dan Pegunungan Muria yang masih lebat oleh Hutan (meskipun mulai banyak praktek illegal logging), embung, perkebunan dan beberapa dimanfaatkan untuk peternakan-pertanian.

Kembali kepada Slogan PATI BUMI MINA TANI (PBMT), semboyan ini merupakan cita-cita atau idealis dari pemerintah awal Kabupaten Pati yang ingin memajukan-mensejahterakan daerah lewat hasil bumi pertanian-perikanan. Jika sobat beruntung, sobat akan menjumpai Tugu Tani Kabupaten Pati, merupakan salah satu simbol semboyan Kota PatiBumi Mina Tani“.

Nah, secara sengaja saya menemukan Silahkan sobat PBMT kroscek Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Pati Nomor: 3 Tahun 1993 Tentang Semboyan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Pati. Disanalah awal mula ditentukannya Semboyan Pati “BUMI MINA TANI” merupakan kepanjangan dan mempunyai maksud sebagai berikut:

B = Berdaya, adalah berkemampuan untuk mewujudkan cita-cita.

U = Upaya, merupakan usaha masyarakat dalam mencapai cita-cita yang diharapakan.

M = Menuju, merupakan arah/ tujuan yang ingin dicapai sesuai identitas daerah.

I = Identitas Pati, merupakan ciri kekhususan yang sebenarnya, sehingga masyarakat dengan segala daya dan upaya ingin menemukan Jari Dirinya sendiri.

M = Makmur, merupakan cita-cita hidup yang diidam-idamkan seluruh bangsa yang sudah ada sejak bangsa itu lahir.

I = Ideal, merupakan harapan masyarakat yang diinginkan agar dicapai suatu keadaan yang selalu dapat menyesuaikan dengan perkembangan jaman.

N = Normatif, merupakan harapan masyarakat dan pemerintah yang ingin mencapai tata kehidupan senantiasa berpihak pada norma-norma yang berlaku.

A = Adil, merupakan cita-cita bangsa yang didambakan sesuai dengan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.

T = Tertib, suatu keadaan yang diharapakan yaitu tertib pemerintah dan tertib masyarakatnya sehingga kedua-duanya harus saling mendukung tanpa ada yang bertentangan.

A = Aman, adalah suatu keadaan dimana masyarakat benar-benar merasa aman dan merasa terlindungi dalam hidupnya sehari-hari sebagai warga masyarakat.

N = Nyaman, adalah suatu keadaan dimana masyarakat merasa enak, sejuk, sehat, dan segar sehingga memungkinkan masyarakat betah tinggal di lingkungannya.

I = Indah, juga sebagai cita-cita pendukung yaitu kondisi estetika dambaan masyarakat.

Referensi : http://produksibpspati.blogspot.com/2010/05/lambang-dan-semboyan-daerah-kabupaten.html (diakses 04/04/2012)

Sejarah Pati

Halo Sobat, gak bosen kan nongkrongin blog ini? baguslah kalau begitu.

Oke, kali ini saya akan menulis sedikit sejarah Kabupaten Pati yang masih bisa dilacak dari berbagai sumber. Selamat membaca,,

Pendahuluan

Sejarah Kabupaten Pati berpangkal tolak dari beberapa gambar yang terdapat pada Lambang Daerah Kabupaten Pati yang sudah disahkan dalam Peraturan Daerah No. 1 Tahun 1971 yaitu Gambar yang berupa: “keris rambut pinutung dan kuluk kanigara”.

Menurut cerita rakyat dari mulut ke mulut yang terdapat juga pada kitab Babat Pati dan kitab Babat lainnya dua pusaka yaitu “keris rambut pinutung dan kuluk kani” merupakan lambang kekuasan dan kekuatan yang juga merupakan simbul kesatuan dan persatuan.

Barangsiapa yang memiliki dua pusaka tersebut, akan mampu menguasai dan berkuasa memerintah di Pulau Jawa. Adapun yang memiliki dua pusaka tersebut adalah Raden Sukmayana penggede Majasemi andalan Kadipaten Carangsoka.

Kevakuman Pemerintahan di Pulau Jawa

Menjelang akhir abad ke XIII sekitar tahun 1292 Masehi di Pulau Jawa vakum penguasa pemerintahan yang berwibawa. Kerajaan Pajajaran mulai runtuh, Kerajaan Singasari surut, sedang Kerajaan Majapahit belum berdiri.

Di Pantai utara Pulau Jawa Tengah sekitar Gunung Muria bagian Timur muncul penguasa lokal yang mengangkat dirinya sebagai adipati, wilayah kekuasaannya disebut kadipaten.

Ada dua penguasa lokal di wilayah itu yaitu. 1. Penguasa Kadipaten Paranggaruda, Adipatinya bernama Yudhapati, wilayah kekuasaannya meliputi sungai Juwana ke selatan, sampai pegunungan Gamping Utara berbatasan dengan wilayah Kabupaten Grobogan. Mempunyai putra bernama Raden Jasari. 2. Penguasa Kadipaten Carangsoka, Adipatinya bernama: Puspa Andungjaya, wilayah kekuasaannya meliputi utara sungai Juwana sampai pantai Utara Jawa Tengah bagian timur. Adipati Carangsoka mempunyai seorang putri bernama Rara Rayungwulan

Kadipaten Carangsoka dan Paranggaruda Berbesanan

Kedua Kadipaten tersebut hidup rukun dan damai, saling menghormati dan saling menghargai untuk melestarikan kerukunan dan memperkuat tali persaudaraan, Kedua adipati tersebut bersepakat untuk mengawinkan putra dan putrinya itu. Utusan Adipati Paranggaruda untuk meminang Rara Rayungwulan telah diterima, namun calon mempelai putri minta bebana agar pada saat pahargyan boja wiwaha daup (resepsi) dimeriahkan dengan pagelaran wayang dengan dalang kondang yang bernama “Sapanyana”.

Untuk memenuhi bebana itu, Adipati Paranggaruda menugaskan penggede kemaguhan bernama Yuyurumpung agul-agul Paranggaruda. Sebelum melaksanakan tugasnya, lebih dulu Yuyurumpung berniat melumpuhkan kewibawaan Kadipaten Carangsoka dengan cara menguasai dua pusaka milik Sukmayana di Majasemi. Dengan bantuan uSondong Majerukn kedua pusaka itu dapat dicurinya namun sebelum dua pusaka itu diserahkan kepada Yuyurumpung, dapat direbut kembali oleh Sondong Makerti dari Wedari. Bahkan Sondong Majeruk tewas dalam perkelahian dengan Sondong Makerti. Dan Pusaka itu diserahkan kembali kepada Raden Sukmayana. Usaha Yuyurumpung untuk menguasai dan memiliki dua pusaka itu gagal.

Walaupun demikian Yuyurumpung tetap melanjutkan tugasnya untuk mencari Dalang Sapanyana agar perkawinan putra Adipati Paranggaruda tidak mangalami kegagalan (berhasil dengan baik).

Pada Malam pahargyan bojana wiwaha (resepsi) perkawinaan dapat diselenggarakan di Kadipaten Carangsoka dengan Pagelaran Wayang Kulit oleh Ki Dalang Sapanyana. Di luar dugaan pahargyan baru saja dimulai, tiba-tiba mempelai putri meninggalkan kursi pelaminan menuju ke panggung dan seterusnya melarikan diri bersama Dalang Sapanyana. Pahargyan perkawinan antara ” Raden Jasari ” dan ” Rara Rayungwulan ” gagal total.

Adipati Yudhapati merasa dipermalukan, emosi tak dapat dikendalikan lagi. Sekaligus menyatakan permusuhan terhadap Adipati Carangsoka. Dan peperangan tidak dapat dielakkan. Raden Sukmayana dari Kadipaten Carangsoka mempimpin prajurit Carangsoka, mengalami luka parah dan kemudian wafat. Raden Kembangjaya (adik kandung Raden Sukmayana) meneruskan peperangan. Dengan dibantu oleh Dalang Sapanyana, dan yang menggunakan kedua pusaka itu dapat menghancurkan prajurit Paranggaruda. Adipati Paranggaruda, Yudhapati dan putera lelakinya gugur dalam palagan membela kehormatan dan gengsinya.

Oleh Adipati Carangsoka, karena jasanya Raden Kembangjaya dikawinkan dengan Rara Rayungwulan kemudian diangkat menjadi pengganti Carangsoka. Sedang dalang Sapanyana diangkat menjadi patihnya dengan nama ” Singasari “.

Kadipaten Pesantenan

Untuk mengatur pemerintahan yang semakin luas wilayahnya ke bagian selatan, Adipati Raden Kembangjaya memindahkan pusat pemerintahannya dari Carangsoka ke Desa Kemiri dengan mengganti nama ” Kadipaten Pesantenan dengan gelar ” Adipati Jayakusuma di Pesantenan.

Adipati Jayakusuma hanya mempunyai seorang putra tunggal yaitu ” Raden Tambra “. Setelah ayahnya wafat, Raden Tambra diangkat menjadi Adipati Pesantenan, dengan gelar ” Adipati Tambranegara “. Dalam menjalankan tugas pemerintahan Adipati Tambranegara bertindak arif dan bijaksana. Menjadi songsong agung yang sangat memperhatikan nasib rakyatnya, serta menjadi pengayom bagi hamba sahayanya. Kehidupan rakyatnya penuh dengan kerukunan, kedamaian, ketenangan dan kesejahteraannya semakin meningkat.

Kabupaten Pati

Untuk dapat mengembangkan pembangunan dan memajukan pemerintahan di wilayahnya Adipati Raden Tambranegara memindahkan pusat pemerintahan Kadipaten Pesantenan yang semula berada di desa Kemiri menuju ke arah barat yaitu, di desa Kaborongan, dan mengganti nama Kadipaten Pesantenan menjadi Kadipaten Pati.

Dalam prasasti Tuhannaru, yang diketemukan di desa Sidateka, wilayah Kabupaten Majakerta yang tersimpan di musium Trowulan. Prasasti itu terdapat pada delapan Lempengan Baja, dan bertuliskan huruf Jawa kuna. Pada lempengan yang keempat antara lain berbunyi bahwa : ….. Raja Majapahit, Raden Jayanegara menambah gelarnya dengan Abhiseka Wiralanda Gopala pada tanggal 13 Desember 1323 M. Dengan patihnya yang setia dan berani bernama Dyah Malayuda dengan gelar “Rakai”, Pada saat pengumuman itu bersamaan dengan pisuwanan agung yang dihadiri dari Kadipaten pantai utara Jawa Tengah bagian Timur termasuk Raden Tambranegara berada di dalamnya.

Pati Bagian dari Majapahit

Raja Jayanegara dari Majapahit mengakui wilayah kekuasaan para Adipati itu dengan memberi status sebagai tanah predikan, dengan syarat bahwa para Adipati itu setiap tahun harus menyerahkan Upeti berupa bunga.

Bahwa Adipati Raden Tambranegara juga hadir dalam pisuwanan agung di Majapahit itu terdapat juga dalam Kitab Babad Pati, yang disusun oleh K.M. Sosrosumarto dan S.Dibyasudira, diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 1980. Halaman 34, Pupuh Dandanggula pada : 12 yang lengkapnya berbunyi : ….. Tan alami pajajaran kendhih, keratonnya ing tanah Jawa angalih Majapahite, ingkang jumeneng ratu, Brawijaya ingkang kapih kalih, ya Jaka Pekik wasta, putra Jaka Suruh, Kyai Ageng Pathi nama, Raden Tambranegara sumewa maring Keraton Majalengka.

Artinya Tidak lama kemudian Kerajaan Pajajaran kalah, Kerajaan Tanah Jawa lalu pindah ke Majapahit, adapun yang menjadi rajanya adalah Brawijaya II, yaitu Jaka Pekik namanya, putranya Jaka Suruh. Pada waktu itu Kyai Ageng Pati, yang bernama Tambranegara menghadap ke Majalengka, yaitu Majapahit.

Berdasarkan hal tersebut, jelaslah bahwa Raden Tambranegara Adipati Pati turut serta hadir dalam pisowanan agung di Majapahit. Pisowanan agung yang dihadiri oleh Raden Tambranegara ke Majapahit pada tanggal 13 Desember 1323, maka diperkirakan bahwa pindahnya Kadipaten Pesantenan dari Desa Kemiri ke Desa Kaborongan dan menjadi Kabupaten Pati itu pada bulan Juli dan Agustus 1323 M (Masehi). Ada tiga tanggal yang baik pada bulan Juli dan Agustus 1323 yaitu : 3 Juli, 7 Agustus dan 14 Agustus 1323.

Hari Jadi Pati

Kemudian diadakan seminar pada tanggal 28 September 1993 di Pendopo Kabupaten Pati yang dihadiri oleh para perwakilan lapisan masyarakat Kabupaten Pati, para guru sejarah SMA se Kabupaten Pati, Konsultan, Dosen Fakultas Sastra dan Sejarah UNDIP Semarang, secara musyawarah dan sepakat memutuskan bahwa pada tanggal 7 Agustus 1323 sebagai hari kepindahan Kadipaten Pesantenan di Desa Kemiri ke Desa Kaborongan menjadi Kabupaten Pati.

Tanggai 7 Agustus 1323 sebagai HARI JADI KABUPATEN PATI telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Pati Nomor : 2/1994 tanggal 31 Mei 1994, sehingga menjadi momentum Hari Jadi Kabupaten Pati dengan surya sengkala ” KRIDANE PANEMBAH GEBYARING BUMI ” yang bermakna ” Dengan bekerja keras dan penuh do’a kita gali Bumi Pati untuk meningkatkan kesejahteraan lahiriah dan batiniah “. Untuk itu maka setiap tanggal 7 Agustus 1323 yang ditetapkan dan diperingati sebagai “Hari Jadi Kabupaten Pati”.

Geografi

Sebagian besar wilayah Kabupaten Pati adalah dataran rendah. Bagian selatan (perbatasan dengan Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Blora) terdapat rangkaian Pegunungan Kapur Utara. Bagian barat laut (perbatasan dengan Kabupaten Kudus dan Kabupaten Jepara) berupa perbukitan. Sungai terbesar adalah Sungai Juwana, yang bermuara di daerah Juwana.

Ibukota Kabupaten Pati terletak tengah-tengah wilayah Kabupaten, berada di jalur pantura Semarang-Surabaya, sekitar 75 km sebelah timur Semarang. Jalur ini merupakan jalur ramai yang menunjukkan diri sebagai jalur transit. Kelemahan terbesar dari jalur ini adalah kecilnya jalan, hanya memuat dua jalur, sehingga untuk berpapasan cukup sulit.

Terdapat sungai besar yaitu Sungai Juwana. Saat musim penghujan sudah terbiasa sungai ini meluap, sehingga pemerintah Jawa Tengah membentuk lembaga yang berfungsi menanggulangi banjir yang bernama Jatrunseluna.

PATI ?? Kenalan?? Objek Wisata??

 

Hallloooo, ada yang tahu dimana itu Pati?

Tepat sekali 100, 1 untuk yang njawab dengan benar, Jawa Tengah.


Secara, di Pati terdapat 2 kota kecil, Pati dan Juwana. ada yang dari sana atau sekedar lewat? he he he

Baiklah sobat PBMT (Pati Bumi Mina Tani), mari kita tengok sekelumit cerita tentangnya.

Belum pernah ngarasain nikmatnya produk-produk kacang atom Garuda? kacang atom Dua Kelinci? ataupun turunannya?

Saya ragu kalau Sobat PBMT menjawab “belum”. Ya, keduanya diproduksi di Pati.

Hendak berkunjung ke Pati? biasanya pertanyaan Pertama adalah… emang ada apanya?? bagus gak?? enak gak tempatnya?? mahal gak??

Kalau masalah itu sih (baik-buruk) relatif. Akan tetapi, hemat saya sih masih Pemkab Pati setengah-setengah menanganinya. bingung kali yah, saking banyaknya Objek wisata, atau mungkin saking luasnya Kabupaten Pati, atau mungkin Pemerintah lupa?. apalah itu, yang penting adalah bagaimana caranya agar generasi penerus Pati nanti (yang sekarang ini masih banyak ngerantau di penjuru dunia), akan datang kembali membawa modal mereka untuk menghidupkan Pati menjadi wilayah terpenting di Indonesia. Optimis Bro!!

Langsung saja sampai saat ini gue baru nemuin 17 OW (Objek Wisata), berikut rentetan wisata yang ada di Kabupaten Pati, check this out guy’s—>

1. Waduk Gunung Rowo :

Terletak di Desa Sitiluhur-Kecamatan Gembong-Kabupaten Pati, berada dilembah diantara beberapa bukit dilereng Gunung Muria sehingga berhawa sejuk dan mempunyai panorama yang cukup indah yaitu berupa pegunungan,lembah dengan tanaman kopi,cengkeh dan buah-buahan. Waduk ini memiliki luas area sekitar 320 hektar. Selain itu di tempat ini juga dilengkapi dengan fasilitas seperti speed boat,bebek air (dulu, ha ha),gardu pandang serta jalan melingkar mengelilingi waduk.

Nama Gunung Rowo konon bermula ketika Laksamana Cengho mengunjungi Sunan Muria,kemudian ketika mengunjungi tempat yang kini dinamakan Gunung Rowo ini terjadi perbedaan pendapat antara keduanya. Sunan Muria mengatakan tempat itu adalah gunung sedangkan Laksamana Cengho mengatakan itu adalah rawa. Akhirnya untuk mengahiri perbedaan pendapat tempat itu dinamakan Gunung Rowo yaitu gabungan kata gunung dan rowo.

Lokasi Waduk Gunung Rowo sangat mudah dijangkau dengan banyaknya angkutan kota yang tersedia sampai sore hari,juga bagi yang menggunakan kendaraan pribadi akan mudah karena tidak banyak persimpangan yang harus dilalui. Konon dibangun pada masa pemerintahan hindia belanda yang pada awalnya berfungsi sebagai sarana pengairan desa setempat. Sekarang masih berfungsi sebagai tempat pencaharian terutama nelayan disekitar wilayah tersebut, sehingga tidak heran jika saat ini banyak penjual ikan olahan yang membuka warung disekitar waduk ini dengan harga terjangkau. Selain itu di dekat gunung rowo juga terdapat area camping,taman bunga dan air terjun.

2. Banyu Urip

Di daerah Margorejo terdapat mata air yang cukup besar, yang digunakan untuk kolam renang. Nama tempat tersebut adalah Banyu Urip. Di sekitarnya terdapat perkebunan jambu monyet (mete).

3. Waduk Seloromo

Di daerah Gunung Muria, yaitu di daerah Gembong, terdapat waduk yang diberi nama Selo Romo. Waduk ini termasuk berukuran kecil, jika musim kemarau, pasti akan dangkal. Di sekitar waduk sering dipakai sebagai area perkemahan.

4. Gua Wareh

Wareh merupakan suatu daerah di Desa Kedumulyo Kecamatan Sukolilo yang terletak di lereng Pengunungan Kapur Utara. Gua Wareh memang hanya merupakan gua kecil dengan panjang tak lebih dari seratus meter namun dari dalamnya mengalir air jernih tanpa henti sepanjang tahun. Selain menjadi sumber mata air bagi penduduk sekitar, Gua Wareh memiliki mitos yang sangat sakral. Air dari dalam gua ini dipercaya mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Di samping Gua Wareh masih terdapat lagi Gua Lawa yang di dalamnya terdapat kubangan air yang sangat luas dan dalam. Di depan gua ini terdapat sebuah aliran sungai dangkal yang diapit oleh dua tebing curam di sisinya. Semakin disusuri ke hulu, sungai semakin terjal dengan batu-batu gunung besar yang menciptakan puluhan air tenjun kecil. Sayang di saat musim kemarau sungai ini mengering. Di atas Gua Wareh terdapat tebing-tebing batu kapur yang sangat terjal. Tebing-tebing ini sering kali digunakan oleh para Pecinta Alam untuk menguji adrenalinnya. Karena itu di daerah ini sering menjadi ajang camping dan pelatihan panjat tebing bagi para pecinta alam dari seantero Kabupaten Pati bahkan kabupaten-kabupaten sekitarnya.

Gua, sungai, tebing dan kerasnya perbukitan kapur memberikan tantangan kepada setiap orang yang menyukai kegiatan out bond. Selain itu setiap hari libur tempat ini selalu ramai oleh pengunjung dari berbagai daerah di sekitarnya, apalagi untuk masuk tempat ini tidak dipungut biaya apapun. Sayang tempat yang indah ini sedikit terganggu oleh maraknya penambangan batu kapur dan pengambilan fosfat.

5. Air Terjun Tadah Hujan

Air terjun setinggi 75 meter di Kecamatan Sukolilo ini menjadi tempat yang mengasyikkan bagi para muda mudi yang sedang memadu cinta. Meskipun airnya kurang jernih dan bagian bawah air terjun kurang nyaman untuk mandi dan bermain air, namun lokasinya yang di apit oleh tebing di kanan kirinya menimbulkan suasana yang tenang dan romantis. Selain itu tak jauh di sebelah bawah tersedia sebuah kolam renang berair jernih. Sayang lokasi wisata yang dikelola pemerintah desa setempat ini masih kurang mendapat perhatian dan perawatan.

6. Gua Pancur

Sebuah gua besar dan panjang yang di dalamnya diairi air setinggi orang dewasa. Konon panjangnya mencapai belasan kilometer, namun yang bisa dijelajahi dengan alat seadanya hanyalah berkisar kurang dari satu km. Gua yang terletak di Desa Jimbaran Kecamatan Kayen Kabupaten Pati ini pernah pernah menjadi ajang digelarnya Raimuna Daerah Gerakan Pramuka se-Jawa Tengah pada tahun 1996. Sayang lokasi wisata yang awalnya mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten sekarang terbengkalai.

7. Air Terjun Santi

Seperti nasib berbagai tempat indah lainnya di Kabupaten Pati, lokasi yang memiliki 3 air terjun ini tidak pernah mendapat perhatian dari Pemda Pati. Namun mungkin karena itu, ketiga air terjun yang bersembunyi di lereng Gunung Muria yang rimbun dan asri ini memiliki nilai eksotis tersendiri. Apalagi karena letak desa Santi yang jauh dari keramain. Jangankan oleh orang luar, orang Pati sendiri banyak yang belum mengenal daerah ini.

8. Perkebunan Kopi dan Bumi Perkemahan Jolong

Berlokasi di lereng Muria dengan ketinggian sekitar 1000 meter, perkebunan kopi yang merupakan peninggalan Pemerintah Kolonial Belanda dan kini di kelola oleh PTPN (PT. Perkebunan Nasional) ini memiliki pemandangan yang menakjubkan. Selain itu masih bisa disaksikan juga, pabrik pengolahan kopi dan berbagai peralatannya yang masih berfungsi baik meski telah dimakan usia.

Di dekat perkampungan karyawan perkebunan disediakan sebuah bumi perkemahan yang sangat refresentatif. Bumi perkemahan ini seluas lapangan bola dengan rumput yang halus apalagi terletak di sisi jurang yang menghadap ke Gunung Muria hingga memiliki pemandangan alam yang segar dan sangat memanjakan mata kita. Didukung pula dengan arena penjelajahan dan lintas alam yang sangat menantang. Melintasi perkebunan kopi, tebing dan jurang, beberapa air terjun kecil dan sungai kecil berbatu yang memberikan tantangan sekaligus keindahan. Air bersih dan sarana MCK juga tersedia di sini engan kualitas air yang tidak perlu diragukan lagi. Benar-benar kita akan merasakan alam yang benar-benar masih murni dan asli.

Tak cukup itu. Bagi para pecinta alam, wilayah yang termasuk dalam Kecamatan Gembong ini bisa dijadikan salah satu rute alternatif untuk mencapai puncak-puncak tertinggi Gunung Muria seperti Songolikur (Saptorenggo) dan Argojembangan. Suasana akan makin istimewa bila tiba saatnya kopi berbunga. Biasanya jatuh pada pancaroba menjelang musim hujan sehingga segarnya udara yang mulai dingin bercampur dengan aroma bunga kopi yang begitu wangi semerbak terbawa angin. Benar-benar membuat kita seolah berada di dunia yang belum pernah kita rasakan sebelumnya.

9. Bumi Perkemahan Regaloh

Berada dalam naungan Perum Perhutani, Bumi Perkemahan yang terletak di Kecamatan Tlogowungu ini mempunyai kapasitas yang besar (mampu menampung lebih dari 4000 peserta) dan udara yang amat segar karena selain masih berada di lereng Gunung Muria, juga lantaran rimbunnya pepohonan yang ada di Bumi Perkemhan tersebut. Kegiatan Kepramukaan yang dilaksanakan di Regaloh.

Di sekitar Bumi Perkemhan kita dapat menikmati berbagai panorama seperti; Hutan Bambu (dengan ratusan jenis koleksinya), perkebunan murbei (makanan utama ulat sutra), Hutan Jati, pengembangbiakan lebah madu dan pengembangbiakan ulat sutra serta pemintalan benangnya. Di dukung lagi lokasinya yang mudah untuk dijangkau. Karena tidak mengherankan jika tempat ini menjadi salah satu Bumi Perkemahan favorite di Kabupaten Pati selain Bumi Perkemahan Jolong.

10.  Makam Mbah Ahmad Mutamakkin dan Mbah Ronggo Kusumo

Tempat rekreasi religius yang terletak di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso ini tak pernah sepi dari kunjungan para penziarah yang datang dari berbagai pelosok Kabupaten Pati, apalagi setiap malam Jum’at. Tidak sedikit pula yang berasal dari kota-kota lain bahkan dari luar pulau. Lokasinya yang berada di tengah-tengah komunitas santri dengan puluhan Pondok Pesantren, semakin mengentalkan nuansa religiusnya.

Mbah Ahmad Mutamakkin dan Mbah Ronggo Kusumo adalah seorang Waliyullah yang teramat dikeramatkan oleh penduduk Pati. Karenanya haul Mbah Ahmad Mutamakkin yang digelar setiap tanggal 10 bulan muharram dan haul Mbah Ronggo Kusumo setiap tanggal 10 bulan safar ribuan orang memadati daerah ini. Acara haul sendiri digelar selama satu minggu.

11. Agrowisata

Keanekaragaman panorama dan tumbuhan hortikultura, tanaman perkebunan, dan tanaman pangan. Di sepanjang lereng Gunung Muria bagian timur yang terletak di Kecamatan Tlogowungu, Kecamatan Gembong, Kecamatan Gunungwungkal, dan Kecamatan Cluwak.

12. Wisata Air

Perairan budidaya ikan air tawar (tambak) seluas 185 Ha. Desa Talun.

13. Air Terjun Grenjengan Sewu

Air terjun memiliki tinggi ± 75 m. Air terjun yang berada di tengah panorama alam yang indah, kondisi masih alami dan belum digarap. Desa Jrahi Kecamatan Gunungwungkal, ketinggian 485 m di atas permukaan laut. Jarak dari Kota Pati ± 27 Km. Sudah tersedia jalan beraspal dan lapisan makadam sampai di Desa Jrahi.

14. Sendang Tirta Marta Sani

Objek Wisata berupa Kolam renang dan wisata spiritual ini, memiliki Fasilitas : Paseban tempat mengheningkan diri mohon pada Sang Pencipta, Padusan (Sumber air yang berasal dari sendang, konon menurut cerita, sumber air tersebut merupakan tempat air wudhu Sunan Kalijaga, tetapi “disisani” (bahasa Jawa) oleh pengawalnya. Pengawalnya kemudian disabda menjadi seekor bulus oleh Sunan Kalijaga), Kolam renang dan arena permainan anak, Kolam pemancingan ikan.

Di kompleks tersebut juga terdapat makam Adipati Pragolo (Bupati Pati pada zaman Kerajaan Mataram) dan Pendopo (sarana pentas kesenian khas Pati). Sudah tersedia areal parkir dan jalan beraspal, berjarak ± 4 Km dari Kota Pati.

15. Pintu Gerbang Majapahit

Objek Wisata Situs peninggalan Gerbang Majapahit ini adalah Peninggalan sejarah berupa Pintu Gerbang terbuat dari kayu jati. Pintu gerbang ini merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit yang diangkat oleh Kebo Nyabrang sebagai persyaratan untuk diakui sebagai Putra Sunan Muria. Namun setelah tiba di Desa Rondole, Kebo Nyabrang tidak mampu lagi mengangkat dan tidak mampu melanjutkan perjalanan kemudian menunggui pintu gerbang tersebut sampai meninggal dunia.    Terletak di Desa Rendole, Kecamatan Margorejo, jarak dari kota Pati 4 Km. Berdekatan dengan obyek wisata Sendang Tirta Sani.

16. Makam Mbah Tabek Merto

Obyek wisata Kompleks makam kuno ini terletak di Dukuh Domasan, Desa Prawoto Kecamatan Sukolilo.    Makam ini diperkirakan telah ada sejak abad ke XVI pada masa awal penyebaran agama Islam di Indonesia. Ditinjau dari bentuk makam, bentuk nisan dan letak pemakaman, maka makam kuno ini dapat disejajarkan dengan usia makam yang ada di Demak pada masa Kerajaan islam di Demak.

Berdasarkan namanya, Tabek berasal dari bahasa Arab dari kata tabi’a yang berarti yang mengikuti atau pengikut. Yang dimaksud pengikut di sini adalah pengikut para penyebar agama islam pada masa itu, yaitu para wali atau wali songo. Kompleks pemakaman kuno saat ini banyak dikunjungi orang karena diyakini mempunyai hubungan dengan para wali.

17. Makam Saridin / Syeh Jangkung

Objek Wisata Makam Saridin atau terkenal dengan nama Syeh Jangkung ini konon merupakan salah seorang murid Sunan Kalijaga (Wali Songo). Makam tersebut terletak di Desa Landoh, Kecamatan Kayen. Jarak dari kota Pati kira-kira 17 Km kearah selatan menuju Kabupaten Grobogan.  Makam ini banyak dikunjungi orang setiap hari Jum’at Kliwon dan Jum’at Legi. Upacara khol dilaksanakan setiap 1 tahun sekali yaitu pada bulan Rajab tanggal 14-15 dalam rangka penggantian kelambu makam.

Referensi: http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Pati (diakses 04/04/2012, dengan beberapa perubahan)

 

Halo Pembaca patibumiminatani.wordpress.com :)

Selamat datang, sugeng rawuh di Blog saya.

Anda Warga Pati?, kalau begitu suatu kebetulan karena saya orang Pati tulen (Bapak-ibu sama-sama dari Kabupaten Pati)

Anda Bukan Warga Pati?, tidak masalah yang jelas saya tahu kalau anda pengen tahu tentang Pati. Kenapa? ya iyalah, orang jelas-jelas anda baca tulisan ini. he he he.

Baik, Blog ini secara khusus akan saya muati dengan segala hal informasi tentang Pati. Selanjutnya, sapaan khusus yang saya gunakan untuk pembaca blog ini adalah “Sobat PBMT” alias Sahabat Pati Bumi Mina Tani. Tidak perlu panjang kali lebar, langsung saja, Selamat Membaca.. :)